Friday, May 30, 2003

JARING MERAH*

Parau sudah batin dan lidah telah kau hantam aku hingga gelintang terkapar gemetar. Ibuku bersembah di sepatumu apa kau hirau malah kau terjang ia hingga gelincuh kesakitan. Lalu bendera di pagar pun gelepai bagai daun pinus basah.

Apa yang kau hendak tak usai usai kau enyah hingga ranap bumiku, musnah. Benang benang merah kau lintang dari kelapa hingga jeumpa. Aku terbebat. Kering pula doa doa sebab kayu menyerap mata dan telinga, maka senyap sudah tubuhku.

Coba kau lihat benang benangmu membentang labirin merah, aku bagai serangga sekarat gelepar di racunmu. larauku percuma bergaung sebab jalan setapak yang boncel di pinggir pinggir sempurna kosongnya. Habis sudah air di mata hanya tinggal bola bola keriput yang kering dan merah sebab tak sudah sudah memandang jaring kusutmu berwarna darah.

Aku gelincir merangkum bumi. Dalam telangkup kukecup tanah moyangku

28 Mei 2003
*nama operasi militer di Aceh (1989-1998)

Tuesday, May 20, 2003

PASIR PUTIH

Merapatlah hai sauh
di tapal yang penuh peluh
jangan berlayar menjauh
duhai sampan yang kumuh

Merendahlah,
di tepian seekor camar tengah lelah
sehabis menghitung-hitung
jejak-jejak langkah

Di pinggiran, di antara pasir
ada hati yang sedang berdesir

Lampung, 2001

Sunday, May 18, 2003

RE: TRIBUTE TO A POET

kau beri lelangut padaku
padahal belum sampai tapak
di ujung tuju
terburu sudah aku terisak

jangan kau lepas nafas
mari terjaga kita bersama
mimpi ini sudah kepalang lama

18 Mei 2003


Friday, May 16, 2003

MENGUBUR RIWAYAT
--lelaki bersayap

rebah sudah lelah. lena sudah resah. reban aku dari titian jalan.
teguhlah batin. punahlah ingin. yang dayu dan haru.

tiba kita di simpang. bukit yang berjurang. mengarah kita ke lembah. memisah.
tak ada tangis menderai. sebab gerimis telah ranai. di ujung tuju tak tampak ragu.
ada rerumput menjemput. semak rimbun. udara yang mengembun.

ladung air di pelupuk mata. mendung rupa tidaklah baka. tak pupus hidup. tak surut
jantung berdegup. kubur segala riwayat. pegat kata yang likat. sudah tamat. kembali
kita bersekat.

15 Mei 2003

Wednesday, May 14, 2003

BATU

mencintaimu seperti melayang di jagat
yang kometnya berkelebat-kelebat

tapi mencintaimu juga bagai mengangkat batu berat
di pundakku yang tak kuat

mungkinkah suatu saat kau ulurkan tangan
atau aku sendiri yang harus memecahnya?

2002

ANGIN DINGIN

kalau kau duduk di taman bunga tulip
rasakan angin dingin yang menghembus
—aku tengah menyapamu

2002

DESEMBER (2)

aku khawatir, apa sayap-sayap dipunggungmu akan beku
waktu kau iseng membuat boneka salju

hati-hati, sayap-sayapmu bisa patah
nanti kau tak bisa pulang ke surga

2002

DEVOTION

jika sayap putihmu patah
kupinjamkan sayapku yang hitam
biarlah aku abadi di dunia
asal bisa mengantarmu terbang ke surga

2002

DONGENG CINTA

aku ini Quasimodo yang terpesona pada Esmeralda
tarian jiwamu membuat dentang lonceng gereja
menjadi nyanyian kudus

aku ini The Phantom yang terkesima pada Christine
gerak tubuhmu di panggung membuat topengku terlempar
dan pecah di udara

takdir merenggut nyawaku dari fana
kubawa gerak dan tarimu menembus semesta

2002

BAYANG-BAYANG

berkelebat bayang-bayang
melintas bayang-bayang

berkelebat lagi bayang-bayang
melintas lagi bayang-bayang

bayang-bayangmu
yang bersayap malaikat

2002

Sunday, May 11, 2003


MENANTI SEBUTIR NASI MAMPIR
DI PIRING KOSONG


Wajah subuh baru saja pergi
pagi membuka jubahnya
Dua puluh tujuh ribu tujuh ratus
Dua puluh jam sudah
aku terduduk di pinggir jalan ini
Menantikan sebutir nasi
mampir di piring kosongku;
—tak jua kunjung mengetuk pintu
Padahal piring kosong ini telah kujilati
—Licin, tandas

Sebentar lagi asap-asap hitam
akan membuatnya kotor;
—lalu kujilati lagi, lalu kujilati lagi
berharap sebutir nasi sudi mampir
ke dalam piring kosongku

Samar-samar suara gerendeng mulai mengganggu
mengisi, menumpahi, meludahi piring kosongku;
—Aku jilati lagi hingga bersih
Sebab aku menanti sebutir nasi
mampir di atasnya

Mata-mata kemudian mengganti gerendengan sialan tadi
mereka tak bersuara, tapi menusuk nusuk
Ketajaman dan dinginnya hampir saja
meretakkan piring kosongku
—Kalau saja tidak kusembunyikan dia
di balik lidahku
Lebih baik begitu daripada aku harus kehilangan
sebutir nasi yang hendak mampir
ke piring kosongku

Siang terik sudah di ubun-ubun
Tapi sebutir nasi itu belum juga muncul
dengan membawa janjinya tentang hidup dalam satu

Sementara piring kosongku
sudah mulai berdebu

2000

BERITA DUKA

Menyusup berita pagi ini
Angin dari Barat tergopoh
menghadiri pemakaman sebungkah hati
yang belel karena terus menerus bermimpi

Padahal malam tadi baru saja
Ia hisap heroin sisa-sisa asmara;
pasangan yang tak pernah tahu
apa itu bunga duka

Padahal sore tadi baru saja
senyum tergerai
memetik helai demi helai dedaunan;
yang tak pernah tahu
apa itu hiasan luka

Hidup siapa sangka
hanya permainan kata-kata belaka
dan asmara adalah bagian yang Maha;
menjadikan sebungkah hati
mengabarkan duka perih

Lampung, 2001

Friday, May 09, 2003

FLAMBOYAN MEMERAH

Flamboyan itu memerah, Kak!
Berdzikir menjatuhkan kelopaknya
satu demi satu ke dalam danau

Warna hijau pekat danau memeluknya
Flamboyan itu makin perkasa: memerah

Flamboyan itu memerah, Kak!
Masuk ke tubuhku, bercampur dengan darah

Bulan Puasa, 2001

KETIKA TUAN BERTANYA

Tuan,
Tuan bertanya padaku tentang cinta
Aku menjawabnya dengan luka
yang kubawa dalam hati yang menyerpih

Tuan bertanya padaku tentang kesetiaan
Aku menjawabnya dengan tangis
yang terus menetes pada mata yang memedih

Lukaku dititipkan oleh cinta yang lenyap
Tangisku diserahkan oleh kesetiaan yang menguap

Tuan,
aku tak punya jiwa

Bulan Puasa, 2001

SIAPA MENGETUK PINTU?

Belum siap, kataku
Nyala lampu belum sempurna
Mata air masih saja menetes
menyirami lantai yang
juga masih kotor

Tunggulah,
atau biarkan aku sendirian

2001

BELIUNG SEDIH

Angin, waktu engkau kutinggalkan,
apa amuk muncul di langit kota kita
ataukah bergejolak di lapang hatimu?
Apa yang terseret dalam beliung sedihmu?

Sementara aku, terseret dalam ruang gelap
yang kusangka benderang
nafasku yang sesak bersamamu
kian terbelenggu

Hidup seperti ini,
lebih menakutkan dari pusaran deritamu

Januari 2003

KABAR ANGIN

Apa kabarmu, Angin?
Masihkah kau hembuskan dirimu
untuk nafasku?

Masihkan kau sapa aku
dengan sapuan halusmu di tengah danau,
yang membentuk butiran-butiran cahaya?

Masihkah kau tegur aku diam-diam
dengan kibasanmu pada jilbab putihku?

Atau masihkah kau mengingatku
dengan mengantarkan doa-doaku
naik ke Langit?

Apa kabarmu, Angin?
Aku di sini, ingin sekali terbang

Januari 2003

NOBODY WANTS TO BE LONELY

s

e

p

i


2001

JIKA

Jika suatu hari nanti
lonceng memainkan iramanya

Maka yakinlah,
kesunyian di tengah lapangan
semakin menampakkan diri
dan melekatkan tapak-tapak keabadian

Maka bersiaplah,
Eva dan Adam akan memanggil
memecah segala kebisuan
yang hampir saja terlupakan

Mereka akan berkata,
“Waktunya telah tiba!”
Lalu kita pun tertawa

2001

Tuesday, May 06, 2003

AKU ASING PADAMU

Di sabana, yang rumputnya menguning
Aku tengadah, menyaksikan langit bening
Tiada awan; sendiri dan hening
Apa yang kau simpan untukku?

Berdenging ribuan kata di telinga
Menyeruak dari batang-batang rumput sabana
Berkelilingan di atas, di muka, di belakang kepala
Apa yang hendak kau sampaikan padaku?

Aku asing padamu
Apa yang ingin kau sibakkan buatku?

2002

DARI BALIK TIKUNGAN

Pada malam di ujung jalan tua
Aku berdiri mematung dan renta
Tak lepas pandang dari tikungan
yang pernah kita ikrarkan

Salju tak pernah turun, bukan?
Begitu pula gugur dedaunan
Namun ada yang berjatuhan
di sela-sela angin, di antara hujan

Akan terdengarkah engkau,
lewat tapak-tapak keabadian
muncul dari balik tikungan
Padahal aku semakin renta; dan dingin
semakin meremukkan

Salju dan dedaun menjadi kekal
dalam petak-petak kebun hayal
Dari balik tikungan tak lepas-lepas kupandang

Tapi kita selalu menyangkal

2002

TUHAN, HENTIKAN TANGANKU

:dari kegilaannya
yang tak berhenti menuliskan
ayat-ayat air mata

aku sudah mabuk
sudah menari-nari di pinggir kali
aku suntuk
ingin bangun dari mimpi

katakan padaku, Tuhan
mengapa sabdaku
tak berkun fayakun

lelaki itu tetap saja duduk membisu

6 Mei 2003

MALAM INI KITA BICARA SOAL CINTA
aditya

cinta menariknarik jantung
yang tak kuat
sebab itu kita marah
denyut mendadak berdegup cepat

apa anak kecil bersayap itu telah mengutuk?
bukankah lidah kita sangat asam
bisa jadi dia murka
dan mematah panah kita

tapi kita ini keras kepala
terus saja bicara soal cinta

4 Mei 03

PANTAI KITA SUDAH TAK ADA LAGI

Berapa banyak butir pasir kita angkat dari dasar lautan? Mungkin sama banyak dengan huruf yang kita gantung di udara, begitu katamu. Sudah itu kita tertawa-tawa, sambil terus mengambil pasir, menimbun daratan: mencipta garis di bibir laut.

Tapi kita lupa malam ini bulan purnama.

Sebentar lagi air menggerus pasir yang susah payah kita menjaganya. Ulurkan tanganmu, sayang. Mungkin kita sudah sia-sia. Tapi biarlah kita hadapi kemusnahan ini dengan haru. Aku menggandeng lenganmu, dan kau menatapku lekat-lekat. Seperti inilah seharusnya akhir kita, seperti gambar roman di selembar kartu pos.

Jika pantai tak lagi mengada, kita akan tenggelam di asin lautan. Mungkin aku menjelma duyung, dan kau menjelma poseidon. Takdirku jatuh di tangan manusia sedang takdirmu di tangan aphrodhite. Jika kita bertemu aku tak mengenalmu, begitu juga kau padaku. Aku sibuk mencari-cari ramuan ajaib dan kau sibuk mengatur-atur jagat samudera.

Kita akan lupa. Pada butir pasir yang berjatuhan di sela-sela jari, pada gumam camar-camar, pada catatan sejarah kita. Seperti itulah, sayang. Seperti itulah.

4 Mei 03

Monday, May 05, 2003

HUJAN DAN AKU

Kutulis janjimu di batang pohon cengkeh
pada paruh malam ini kau akan datang
akan ada dingin di dinding-dinding

Aku berdandan bersiap-siap
duduk di bawah api lilin yang lindap
tengadah mencari-cari jarum-jarum panjang jatuh
menusuk-nusuk jantung

Tapi bintang kita tak lenyap-lenyap

Apakah ini isyarat
kau telah berkhianat?

aku tak percaya
bahkan janjimu pun
belum sempat mengembun

Mei 2003

SELAMAT TINGGAL!

Masih lekat gerak tari kita
menembus semesta
matamu yang penuh cahaya
adalah penerang panggung malam kita
yang dingin

Tapi bel telah berdentang 12 kali

Cobalah kau lihat ke arah Timur!
Sang Maut menagih janjinya padaku
bukankah telah kubilang,
telah kujual jiwaku demi langkah
kaki kita yang berjingkatjingkat

Selamat tinggal! Selamat tinggal!

Kulafal kalimat penghabisan padamu
bahkan airmata tak sempat kuteteskan
Sang Maut tergesa melesat ke langit gelap

Entah ke neraka tempat segala sesal meruapruap
Atau ke surga tempatmu mengistirahkan sayapsayap

April 2003

AKU PAMIT PADAMU, TUAN

Hari menjelang subuh, Tuan
dingin mulai menggempurgempur tulangku

Cukup lama sudah kita dudukduduk menghitung
berapa banyak kristal dingin
bergulir di daun cemara

mungkin kau tak tahu,
tiap butir yang jatuh ke akar
kudaras diamdiam kalimat syukur

Secangkir kopi di tangan kita pun tinggal ampas
sejak hitungan kita baru sampai dua ratus sekian

mungkin juga tak sempat kauperhatikan
tiap seruput kuteguk; rasa manis kutelan,
rasa pahit kuhilangkan pelanpelan

Tak terhitung pula hela nafas kita yang berat
entah karena beban menyumbat jantung
atau bahagia yang menggunung

mungkin tak sempat kau hirau,
tiap hela kurekareka lewat matamu
yang menerawang

Fajar harus kembali
harus menguning bergantunggantung

lalu mungkin kau lupa,
aku ini datang dari hujan yang gelap
dan hilang di antara cahaya
yang jatuh di selasela batang jati

maaf aku tak bisa menemanimu
sarapan sepiring roti bakar dan secangkir kepedihan

aku mohon pamit padamu, Tuan

April 2003

APA KAU AKAN MENANGIS?

Kalau halaman buku
yang tengah kita baca
berhenti bercerita,
apa kau akan menangis?

April 2003

AKHIRNYA

Akhirnya,
seperti daun jambu luruh
di halaman depan rumahmu
begitulah akhir harapku

Aku terjebak mencaricari jiwamu
dalam jaring waktu yang rumit
Hanya bayangbayangmu yang tampak
timbul tenggelam timbul tenggelam

Kukira engkau ada dipojok ruang
kudekati seraya berharapharap
Tapi bayangbayang hanyalah sebuah siluet hitam
padahal jiwamu seputih kelopak bunga di halaman rumah

Lalu kusangka engkau menggelayut di langitlangit
kuambil bangku untuk menggapaimu
Apa mau dikata, bayangbayang bagai seorang penipu
yang kuraih hanya kosong; siasia siasia
bangku malah ambruk dan aku jatuh ke loronglorong gelap
yang tak sampaisampai tubuhku ke ujungnya

Akhirnya,
harus kuuraiurai jaring ini
yang membelitku dan mungkin juga kau
biarlah benangnya menguntaiuntai
catatan takdir kita yang lain

April 2003

MAAF (3)

Kubilang tak apa jika
kau tak mencintaiku
tapi rupanya aku ini pengkhianat
di belakang kutulis berderet doa
memintaminta lagi terangmu yang hijau

2003

SENANDUNG CINTAKU PADAMU
--Haliya Shahab


Saudariku, apa kau ingat?

Di beranda yang menyerap hangat senja. Kita menjalin katakata menguntai kalimat pujapuja. Kita bungkus dan kita masukkan ke dalam kepala apaapa luka dan tawa, apaapa mimpi dan angan; seindah lukisan repro di pinggir jalan.

Imaji kita di udara adalah cinta; menaut dan melingkar di jari kanan. Bibir melafal tasbihtasbih; kita larut dalam pesona.

Wajahmu sering berduka, menetesnetes air dari kedua matamu yang hitam legam. Kau selalu tampak lemah tak berdaya. Engkau, Jelita, seperti kesepian; padahal aku tengadah di sampingmu. Begitu kecil dirimu, terengkuh di kedua tanganku. Tapi ketika aku luruh dalam nestapa, pundakmu yang kecil meluas dan aku lungkruh di pelukanmu. Lantas kita pun bersumpah, menyimpul saudara tanpa darah.

Engkau telah menyempurna tubuh dan jiwa. Telah menjelma ruhmu di dalam raga baru; manusiamu, yang lahir dari rahim perindu Az-Zahra. Kubayangbayang engkau, dengan lidahmu yang santun, bershalawat, bershalawat, bershalawat; menghembus syafaat ke telinga mungilnya dan kau titip di atas namanya.

Cintamu padanya, mendangkalkan cintaku yang kemudian menjadi kecil. Cintamu kini menyerap jagat raya, tak cuma senja. Cintamu adalah semesta; melahirkan jejakjejak kehidupan, menulis keabadian.

Sementara itu aku berdiri menatapmu dari balik pintu imajinasi, menatap tubuhmu yang membelakang. Kepalamu menunduk dan lekatlekat matamu padanya. Bolabola hitam yang dulu memendam banyak rahasia, kini sejernih telaga. Melihatmu bahagia, meruapruap hatiku, merindurindu tegarmu.

Februari 2003

CINTA MEMBUNUH SEMPURNA

“Ada mayat di ujung gang!”
bising mengagetkan tidurku
aku bergegas melayat
sesosok tubuh kaku di pinggir selokan

tangannya terkulai menggenggam teratai
rambutnya kusut basah oleh hujan
bibirnya membiru
dan matanya—mata yang putih dan terbuka lebar—
seperti hendak bercerita tentang kengerian

kulihat ke dalamnya,
bergejolak seperti pusaran
menarik segala yang ada di sekitar
mungkin juga ruang dan waktu

siapa tega membunuhnya?
cinta, kata mereka.
aku membelalak tak percaya

begitu nyata derita dari dirinya
cinta membunuh dengan sempurna

Februari 2003