Sunday, June 29, 2003

MALAM INI

Tak ada langit malam ini. Angin urung mampir sejenak
menyibak sulur sulur rambut. Bintang pun surut. Lalu oleh
siapa titah akan disambut?

Sebab udara sekarat malam ini. Dalam sesak nafas kuseru
suaramu. Adakah yang sanggup mengusung rinduku. Kau entah
dalam pelukan siapa.

Ada anjing lolong malam ini. Takut menderu derap di dada. Bukankah
tiap suara dalam malam adalah kengerian? Perih sekonyong mengelebat.
Kau tak ada di sini.

Tragedi siapa lagi kutangisi? Aku sedih menunggumu.

29 Juni 2003

CINTAKU KEMBALI KE RUMAH

membawa berlembar kertas kumal
berisi coretan tak beraturan
catatan kembara di lorong roman

"kenapa pulang, sayang?"

senyummu samar, matamu nanar
lalu kau lempar kertas itu ke mukaku, bertebaran
(aku bagai di musim gugur...)

"kau lelah, sayang?"

seringaimu tajam, tatapmu menghunjam
kau robek dadamu, menghambur ribuan kertas hitam
entah catatan kembara di lorong apa
kau bakar di atas kepala laksana dupa
(aku bagai di musim panas...)

"apa kau ingin tidur, sayang?"

kau gemetar
seperti gentar
jatuh ke lantai menggelepar
lalu kau menangis hingar
(aku bagai di tengah tengah hujan...)

kataku padanya,
"sudah tak apa, cintaku.
Lain kali, akan kukirim kau ke alamat yang tepat"

27 Juni 2003

AKU INGIN MEMELUKMU (TAPI AKU TAK BISA MENDAMPINGIMU)
--Awan, Langit, dan Bumi

[Awan kepada Bumi]
Aku ingin memelukmu, sungguh.

[Bumi kepada Awan]
Aku menantimu jatuh ke rahimku. Tanahku memang hitam, denganmu aku berharap kesejukan. Ingin kulahirkan dari kulit tandus kerontangku anggrek yang abadi. Tapi kau tak mampu jatuh dan resap di tubuhku.

[Langit kepada Awan]
Jika kau ingin menangis, turunlah. Aku pasrah menggantung sepi di ujung malam.

[Bumi kepada Langit]
Awan menetap kekal di maha luasmu. Singgah ke dasar sesaat lalu kembali ke naungmu.

[Awan]
aku ingin memelukmu, Bumi!

[Langit]
aku mencintaimu, Awanku!

[Bumi]
sia sia sudah...

27 Juni 2003
[aku] Bumiku, jangan sedih lagi ya...isak lirihmu menyayat hatiku.

TERIMA KASIH
--lelaki bersayap

tiap helai bulu sayapmu adalah guratan huruf
mengibas di ubun ubun
membuhulkan kata kata santun

kau ajar aku merendah tunduk ke bumi
sebab putihmu lah hitamku melindap

danau hijau
flamboyan merah
gerimis ranai
guguran daun jambu

adalah cinderamatamu di lisanku
kusimpan dalam kotak memori
tempatmu pernah semayam

langit memanggilmu kembali
aku antar kau dari tepian danau
lalu selesai sudah tautan kita

terima kasih...

27 Juni 2003

Monday, June 02, 2003

MENANTIMU PULANG

Pada saatnya nanti kau pulang dan jejak-jejakmu telah menua. Renta harapku menantimu kembali ke tepi danau lalu artefak akan berkalimat dari rapuh sumpahku.

Gigil aku dalam kemarau, sebab hujan yang rapat selalu setia di dada mengantar siluetmu yang dingin; pada beku pun kau enggan memberiku api.

Betapa gugup aku menantimu pulang, dedaun terburu ranggas dan burung Selatan bergegas hilang dari pandangan. Aku hanya duduk mematung di jendela menyaksikan grafiti di kaca tengah memudar.

Aku menangis gemetar.

31 Mei 2003



AKU MERINDUMU, SUNGGUH

Meski sejarah sudah lelah menulis kisah
samar di buku kita yang pudar menguning dan kering
aku tetap merindumu

Meski pasti hanya layang di langit rembang
kemudian bersiap jatuh ke bumi menggelimpang
aku tetap merindumu

Meski aku adalah bayang yang tak jemu menjemput tubuhmu
lalu memendek dan bersembunyi pada terang
aku tetap merindumu

Jika kau pulang menggenap kenang
lalu gamang yang telah datang membuatku menghilang
aku akan merindumu, sungguh!

1 Juni 2003

PETAKA CINTA

Aku katakan, “bulan tengah semayam di selatan”
kau malah berpaling melihat laron-laron di lampu jalan

ketika aku duduk di bangku kayu yang likat berdebu
kau hanya tercekat berdiri melalang pandang malam yang sayu

Ada hujan dan daun pisang
Kau pilih tempias genting yang usang

Basah kita
Beku kita

Apa ini rupa petaka cinta?
jejak-jejak berderet bersisian
lalu air membelah, terpencar mereka ke tepian

1 Juni 2003