Thursday, September 18, 2003

BEGITULAH AKU

Aku adalah gelombang, tak puas berputar mencari bunyimu di udara malam. Aku hening berkeliaran di serat-serat optik, senyap meliuk mengejar parasmu. Terasakah di jantungmu tak tok sepatu di balik pintu? Kenapa tak kau sambut aku dengan sekuntum kembang atau teriakan panjang?

Aku adalah dingin tiap gelap menyerang, memaksa biru melahir beku. Aku gelembung dalam otak, libat kelabu sel-sel syarafmu. Bebas tabu dari jiwamu sebab aku adalah penjaga yang lupa arti kepak sayap. Kau lihatkah benang di sekujur tubuhmu? Ia akan menyulam tirai di jendela kamar kita. Indah, bukan?

Begitulah aku dan cintaku kepadamu

18-09-03

*Kutemukan sepucuk surat di tumpukan arsip yang tidak jadi kukirimkan pada seseorang

Depok, 14 Mei 2003

Kepada Lelaki di Pondok Kayu

Salam Teman,

Maaf kalau aku tidak bisa berbicara langsung padahal kita berada dalam satu atap. Untunglah kutemukan sisa kertas di dinding kayu kamar belakang dan pensil yang tak panjang lagi hingga aku bisa menulis kata-kata untukmu (apa itu sisamu menggambar?).

Pertama-pertama aku ingin berterima kasih atas semua yang sudah kau berikan kepadaku. Terutama sekali kebaikan hatimu membuka pintu di saat aku kedinginan dan tersesat jalan. Kau begitu baik padaku, padahal aku ini asing bagimu. Tapi ah, tentunya kau pun akan mengatakan hal yang sama padaku.

Secangkir kopi dan perapian malam itu menghangatkan jiwaku yang tak tentu menuju. Bahkan kau tak berkata apa-apa, tak menanya. Kau baik, sangat baik. Kau diam saja saat aku tak henti-henti berceloteh tentang kepedihan.

Sejak aku kembali dari cahaya yang berjatuhan di sela batang jati, saat itu pula kita menguntai cerita dengan lakon yang platonik. Kita asik berpuisi tentang kepak burung, tentang hujan, tentang air sungai, tentang udara, tentang segala yang kita suka. Kau mengajar keindahan padaku yang tak putus berduka dan yang melihat semesta dengan buramnya mata. Kau sibakkan untukku layar hidup yang hijau. Aku indah, aku mengindahi hidup. Pada akhirnya.

“Jangan sedih, hidup terlalu singkat untuk berduka” , ucapmu selalu kala sendu menggelayut di mataku. Ketika jemu selalu menghantu. Remuk redamku terangkat lakumu.

Aneh bukan,
seharusnya aku bahagia. Luka semestinya tiada. Tapi ada sakit menampar-nampar tubuhku. Ada pedih yang tak mau pergi. Kemudian aku pun sadar diri, jiwaku padamu tak platonik lagi. Karena itulah sedih tercipta. Sebab itulah duka mengada.

Teman,
bukankah sehabis itu aku selalu mengganggu? Hilir mudik di depan sofa besarmu yang nyaman. Tempatmu istirah, mencumbu lelah. Tak malu lagi aku berpuisi tentang diri; hujan dan diri, dedaun dan diri, sayap dan diri, mimpi dan diri. Selalu meng-aku, tak henti merayu. Sementara kau diam, duduk membisu di sofa besar dan nyaman itu. Tiba-tiba jarak di antara kita menjadi begitu nyata, asing menyeruak di langit-langit kayu.

Sebab kerapuhan jiwaku inilah aku mohon pamit padamu, Lelaki. Aku tak sanggup memangku diri yang tak lagi platonik. Aku gagal tegar memandang dirimu yang beku di pojok itu. Tengah malam nanti aku akan pergi. Mungkin akan ada hujan badai, entah di atas langit atau di dalam tubuhku. Tak apa, bukankah itu adalah simbol kenangan kita?

Aku akan menghilang di sela-sela batang jati. Aku tak akan berpaling lagi ke pondok kayumu yang tua, sebab melihatnya akan mengguncang jiwaku.

Sampai di sini saja, Lelaki. Selamat tinggal!

Salam,
Aku








Wednesday, September 17, 2003

SAJAK MASIH MURAM
: pines of the twilight

hujan bersikeras suram
huruf-huruf di daun setia kusam
berseru apa selain sesak membuncah
luka yang curah

mengharap senjakala, katamu
tangis tak akan pernah selesai
sebab jingga gagal bertahan atas malam
seperti lazuardi ditelan gelap awan

cinta dalam diriku berjubah hitam
sajakku masih muram

15-09-03

Thursday, September 04, 2003

Kanak-Kanak

Ada anak SD mencoba bunuh diri, gara-gara tidak diberi uang 2500 rupiah untuk kegiatan ekstrakurikuler. Perasaan anak memang sulit ditebak orang dewasa.

Waktu aku SD, kira2 kelas dua atau tiga, aku pernah berniat minggat dari rumah. Tekadku amat bulat. Sepulang sekolah dan berganti baju, tanpa membawa bekal apa-apa, aku pergi jalan kaki ke arah pasar. Waktu itu jarak ke pasar bagiku amat jauh, apalagi diukur dengan langkah anak kecil. Alasanku minggat adalah karena aku kesal sekali tiap hari kena marah ibu—terakhir sih karena aku mandi air hujan. Aku pikir ibu tidak sayang padaku, dan bapak tidak peduli kalau aku dimarahi. Kupikir rasakan saja kalau aku pergi, mereka pasti menyesal telah mengabaikanku.

Sampai di sebuah jembatan, kemudian aku sadar kalau aku tidak tahu mau pergi ke mana lagi sebab hanya daerah pasar yang kukenal. Tiba2 aku merasa takut sekali, aku mulai gemetar lalu mulai menangis. Orang-orang dewasa yang lewat singgah dan bertanya kenapa aku menangis, mereka semua menanyakan di mana ibuku. Aku jadi menginginkan ibuku ada di situ.

Karena aku semakin sesenggukan, orang mulai berkerumun. Lalu ada penjaga toko langganan yang mengenaliku karena sering belanja roti manis dan Chiki bersama bapak. Di bawalah aku ke tokonya, lalu dia menyuruh orang menjemput bapakku di sekolah tempatnya mengajar.

Aku disuruh makan di warungnya, tapi aku masih sesenggukan. Takut sekali. Waktu itu, menunggu bapak adalah hal terlama yang pernah aku rasakan. Ketika bapak sampai, setelah mendengar cerita penjaga toko itu, dia mulai tersenyum-senyum geli. Aku yang tadinya menangis mulai tertawa-tawa juga. Tapi setelah itu aku ingat, bapak sempat terdiam seperti cemas. Kemudian ketika akan pulang, entah untuk menghiburku atau apa, pulang-pulang aku dibelikan raket badminton, mereknya Yonex. Aku senang sekali.

Sampai sekarang kalau satu keluarga sedang berkumpul dan bernostalgia, kisah minggat itu hampir tidak pernah terlewat. Aku selalu jadi bahan tertawaan. Apa yang terjadi ya kalau tidak ada yang mengenalku saat itu? Mungkin sekarang aku tengah hidup di jalanan, entah di mana.

Apa yang aku pikirkan waktu itu ya? Orang tuaku bilang, sejak kecil aku punya daya hayal yang cukup tinggi. Dulu waktu aku ditanya kenapa senang menanam bunga, kubilang karena suatu hari nanti akan ada peri tidur di kelopak bungaku seperti kisah Thumbelina. Saat itu aku memang percaya dengan dunia peri dan ingin tinggal di sana. Waktu kelas 3 SD teman-temanku bilang di air terjun belakang kompleks ada jinnya, aku malah nekat datang ke sana sendirian naik sepeda dan berpikir di bawah pohon bambu ada lorong waktu ke dunia lain. Aku ingin sekali masuk ke dalamnya.

Orang tuaku bilang aku sering bicara sendiri, tapi waktu itu aku tengah bicara pada pohon, pada bunga, pada batu, dan pada air. Di bak mandi, aku suka membuat gelombang dari gayung plastik, dan pusarannya kuanggap pula sebagai lorong waktu. Aku juga pernah mengejar ujung pelangi di kebun singkong tapi segera lari pulang karena mendengar gonggongan anjing. Aku suka melihat awan dan sering melihat gambaran istana di atas awan dengan danau yang luas, dan aku akan tinggal di sana selamanya. Sepertinya aku selalu mencari cara untuk pergi dari rumah.

Lebih besar, kira-kira kelas 4 atau lima, aku pingin sekali keliling Indonesia naik sepeda. Tapi kata temanku ngga boleh soalnya aku perempuan, alasannya ngga jelas. Lalu aku kesal sekali sama Tuhan, kenapa aku dilahirkan sebagai perempuan. Aku tidak takut pada laki-laki waktu itu. Mereka berantem, aku ikut. Mereka melakukan apa saja, aku mau ikut. Aku selalu berpikir aku juga bisa seperti mereka. Kakak laki2ku suka marah, kalau aku ikut2an. Aku juga benci sekali memakai rok.

Kok ngelantur ya? Cuma mau bilang, hati-hati saja bersikap dan berbicara sama anak kecil. Mereka punya perasaan yang sangat sensitif. Kita orang dewasa, sering memaksa mereka ikut pola pikir kita padahal mereka punya dunianya sendiri. Apa yang pernah mereka rasa saat itu, bisa keluar ketika dewasa dan bisa berpengaruh besar terhadap kepribadiannya.

Ada hubungannya ngga ya, setelah dewasa ketika aku sedang naik kereta listrik, aku sering ingin mendorong jatuh orang yang ada di depan pintu?
Aihhhh..sadis!

4-09-03

Ternyata Mawar Itu Cantik Juga

Aku tidak suka bunga mawar, apalagi mawar merah. Pertama mungkin karena aku terlanjur jatuh cinta pada bunga melati dan kaca piring. Kedua, karena bunga mawar buatku begitu angkuh. Kenapa begitu? Entahlah, mungkin karena bila kubandingkan dengan melati yang sederhana, mawar menjadi sesuatu yang terlalu wah. Alasan lain adalah, pohon mawar dan melatiku tumbuh dalam lingkaran tanah yang sama. Jadi ketika aku tengah memetik bunga melati, jariku sering tertusuk duri mawar. Aku memang pendendam.

Ketika aku meninggalkan bangku SD, aku baru tahu kalau mawar itu banyak jenis dan warnanya-mawar di rumahku memiliki kelopak kecil-kecil. Tapi aku tetap tidak jatuh cinta pada mawar. Entah karena aku masih mencintai melati-saat itu kaca piring yang kusuka tiba-tiba menjadi bunga yang langka-atau karena persepsi awalku yang terlanjur mengakar.

Ketika kuliah, aku mulai lebih memperhatikan lagi bunga mawar. Lalu kusimpulkan, aku tetap saja tidak suka mawar merah, tapi aku suka mawar berwarna kuning dan putih-itu pun yang tidak mekar. Saat itu pula aku punya istilah baru untuk mawar: bunga aristokrat. Tahu kan bagaimana gaya kaum aristokrat Inggris? Kalau diumpakan manusia, mawar-terutama mawar merah-itu seperti kaum bangsawan Inggris, elegan tapi angkuh.

Satu bulan yang lalu, bapak menyuruhku membeli aneka bunga. Entah apa yang merasukiku, kubawa dua pohon mawar-kuning dan putih-pulang ke rumah. Yang berwarna putih bentuknya kecil-kecil dan sudah banyak yang mekar ketika kubeli. Aku tidak suka, lagipula tidak menebar wangi. Sementara yang kuning belum berbunga-penjualnya yang memberitahu pohon itu berbunga kuning.

Beberapa hari yang lalu, pohon itu mulai melahirkan dua kuncup yang segera kusadari bentuk bunga ini akan lebih besar dari yang berwarna putih. Karena penasaran, aku terus mengamati perkembangannya. Hari pertama, kuncup itu masih diselimuti dengan daun hijau-sepertinya sih daun-. Hari kedua, muncul warna kuning dan ujung daun hijau itu mulai membuka. Hari ketiga kuncup itu yang mulai membuka. Mau tau bagaimana bentuknya? Amat cantik! Pada hari ketiga itulah aku sadar bahwa mawar itu ternyata cantik. Kelopaknya yang melingkar bertumpuk, kehalusannya, dan wanginya membuatku senang. Kenapa begitu? Apa karena aku terlanjur terlibat secara emosional dalam menanti mekarnya? Atau memang mawar itu benar-benar cantik? Entahlah.

Apa pelajaran yang kudapatkan dari bunga mawar itu ya? Mungkin tidak ada. Tapi kalau mau maksa, ini jadi mengingatkan diriku untuk tidak keras kepala memegang persepsi awal. Kata Sherina, kita harus melihat lebih dekat; kata Cut temanku, segala sesuatu itu bisa berubah; kata Sari, lihat lebih detil, dong!

Benar juga, banyak hal yang tidak kusuka lalu ketika kulihat atau kurasa dari sudut pandang yang berbeda malah jadi menarik hati; kucing, teh botol, melon, dan tomat, misalnya. Tapi apakah setelah ini aku akan menyukai mawar merah? Hmmmm...entahlah, aku khawatir rasa dendamku masih belum pudar.

1-09-03