AMUK GELOMBANG
Ada kosong lagi di tatapan manusia. Ada memar lagi di hati tiap orang. Ada air mata lagi di sepenjuru tenda. Ada tangan menunjuk Langit. Berang. Seberapa inci lagi tabah harus diluaskan?
Siapa yang tak getir? Menyusuri kedalaman genang cokelat, meraba-raba, berbentur-bentur harap dan cemas, lalu terangkat bersama semak tubuh mungil yang gelepai. Mata siapa itu yang harus menanggung banjir?
Rumah rubuh, hati yang gemuruh. Amuk gelombang, jiwa yang goncang. Bumi retak, tegar yang koyak. Selembar kulit pasrah menebal lagi di dinding-dinding manusia.
Tak hendak aku menggugat-Mu. Sebab lukaku sejarak televisi. Cuma satu lilin kunyalakan, yang tak menyebar cahaya di kejatuhan yang dalam. Hanya sebagai harapan kepada-Mu agar menebar kesembuhan. Untuk segala gores yang menggaris panjang di hati mereka...
* 10 bangau kertas, dalam diam, untuk kebahagiaanmu



0 comments:
Post a Comment