Pages

    Wednesday, December 15, 2004

    INTROSPEKSI


    Gw harus introspeksi, ya. Harus semedi. Kalau perlu gw gantung diri terbalik. Biar isi kepala yang selama ini gw selusupin di saraf, rontok semua. Jadi, salah gw nih semuanya? Kok gw jadi di 'ancam' sana sini, ya? *garuk2 kepala.

    Yang satu bilang: Ya udah, silakan aja. Toh, lu ga peduli perasaan dia kan..Yang penting selesai, gimanapun caranya

    Yang lain bilang: Coba aja kalau memang kau seperti itu, aku akan sangat jahat kepadamu

    Yang satu lagi bilang : ...memang harus hati2. Tapi, jangan nyesel ya.

    Nah, lho! Apa salah dan dosaku? *ngelirik seseorang **seseorang menjawab, apapun alasannya, tetep aja bajingan. Tapi tenaaang, itu alamiah kok. Yaaa...kaya eceng gondok aja.

    (Jadi gw ini eceng gondok?)

    Bisa dengarkan eksepsi dari saya, Tuan Hakim?

    Bisa, bisa...silakan. Pengadilan ini rekayasamu dan saya ini makhlukmu.

    Kepada nona yang pertama:
    Bukannya aku dan kau telah mencatat sejarah ini? Memilah tiap inci ketololanku, belajar mengurai ketololanmu, bersama mengutuk diri kita yang super tolol? Lalu kenapa kau membaca tafsiran lain? Seolah telah musnah arsip-arsip kita, yang seharusnya kau kaji dengan seksama.

    Kepada tuan yang kedua:
    Manusia, dikisahkan seorang pendongeng kepada saya, punya sifat alamiah. Salah satunya: menuding yang lain salah saat dia salah. Tuan masa lupa, saya mencintaimu karena dirimu, saya tidak mencintaimu (juga) karena dirimu, dan saya mencintaimu sekaligus tidak mencintaimu (pun) karena dirimu.

    Kepada tuan yang ketiga:
    Kurang ajar sekali kalau saya berani menyesal. Setolol-tololnya saya, saya juga tahu menyesal itu pekerjaan orang yang kurang ajar sama Tuhan.

    Tuhan di sini rekayasamu juga?

    Tuan Hakim, bisa saya selesaikan dulu kalimat saya?

    Oh, silakan. Saya terbawa suasana.

    Tidak ada penyesalan saya bertemu dengan tuan. Tidak menyesal tidak bersama tuan. Dan tidak akan menyesal juga (jika) bersama tuan.

    Demikian, Tuan Hakim. Pembelaan dari saya.

    Bagus. Anda ini benar-benar bajingan.

    *gubrak

    Heran gw. Kenapa jadi gw ya, yang dianggap biang keruwetan ini? *level ego=99.99% . Lha, yang sering gw jadiin tempat curhat sapa? (nona bukan?) Yang bikin gw nangis sapa? (kau tuan...) Yang dateng tiba2 sapa? (ya dirimu, yang tunjuk tangan di pojokan)

    Kok jd marah2 gini, tadi katanya mo introspeksi.

    Iya, lupa. Abis, sapa juga yang ngga keki disalahin sana sini.

    Katanya udah memutuskan pulang.

    Betul. Dadu sudah dilemparkan. Saatnya gw duduk di meja judi lagi bersama Tuhan. Siapa tahu aja jackpotnya tiket ke surga.

    0 comments: