Wednesday, January 28, 2004

CAHAYA, HUJAN, DAUN, DAN DUA MATAMU

Aku bosan pada cahaya, atau hujan, atau daun gugur.
Ketiganya terlalu dimanja oleh penyair yang terus saja
mengutak-atik kejatuhan mereka yang romantis (kadang-
kadang ia campur dengan senja yang magis).

Padahal lebih baik mereka jatuh saja di kedua matamu
yang buta. Agar kau bisa melihatku membawa satu paket
luka yang akan kukirim ke negeri kabutnya Seno Gumira Ajidarma
(laki-laki ini sudah terlalu lama mencintai warna jingga).

Kalau matamu dijatuhi trio romantis itu, aku bersumpah atas
nama segala rayuan gombal aku akan duduk selamanya memandang
lurus-lurus ke kedua matamu yang setiap jamnya akan
berganti-ganti warna: putih, abu-abu, merah kecokelatan,
atau cokelat kemerahan.

Tentu saja aku ini cuma berangan-angan. Mereka bertiga tetap saja
jatuh di luar jendela, ditangkapi dengan khusyu oleh penyair
yang memfungsikannya sebagai air wudlu untuk sembahyang
menyembah kata-kata.

Maka dari itulah, kedua matamu tetap saja buta. Tidak bisa
melihatku sebagai angin yang menjatuhkan cahaya,
hujan, dan daun-daun.

Inilah jawaban cinta yang ingin kubunuh:

Kalau kau membunuhku, aku akan gentayangan di antara sepi dan luka yang kau puja-puja. Lihat saja, kau akan ketakutan dan pucat pasi. Bukan karena darah yang menetes dari tikaman jarum-jarum hujan itu, tapi karena kelembutanku yang menggodamu.

Kau akan sesak nafas melihat butiran-butiran cahaya arwahku di cermin kamar mandi. Juga pada kunang-kunang jelmaan kuku-kuku tanganku yang beterbangan di gelap matamu. Lalu, aku yakin seyakin-yakinnya kau akan pingsan saat kubuka tabir rahasiaku yang menopang waktu.

Jadi, kuperingatkan kau agar jangan pernah berani membunuhku. Biarlah aku tetap menjadi rahasia yang membatu.

25 januari 2004

Monday, January 26, 2004

PEREMPUAN TERAKHIR

Aku ingin mencium kedua matamu
sampai kau buta
Hingga perempuan terakhir yang kau lihat
dan menjadi kenang seumur hidupmu
adalah aku

26 Jan 2004

ZIARAH

Yuk, kita sama-sama
ke makam waktu!
Siapa tahu kita ketemu
sama masa lalu
Lumayan, kan, kita
bisa melepas rindu
sambil sesekali
memakinya, “asu!”
Kok, ya, bisa-bisanya
Kita dulu begitu dungu

25 Jan 2004

BUKAN PUISI
: Akbar, Fahdi, Toba

Kalian kok ribet amat, sih. Pake sesumbar anomali, keos, fictie, dan segala omong kosong itu. Sudah, datangi saja tempat kosnya lalu pandangi bola mata dan senyumnya yang bikin kalian ngga bisa tidur itu. Atau kalau kalian lelaki dari jenis pemalu menunduk saja dalam-dalam, lalu katakan padanya, “Hei, beibeh, aku suka padamu deh! Mau ngga kamu jadi ibu dari anak-anakku?”

26 januari 2004

MENGAJI

Pak Ustadz, mau dong ayat-ayat disulap jadi tanah liat. Saya kepingin buat cangkir untuk minum sambil mikir-mikir, nulis puisi bisa bikin saya masuk surga ngga, ya?

26 Jan 2004

LUPA

Tuhan, sudah berapa lama, ya,
aku lupa menggali kuburanku sendiri?
Kupikir setelah sekian lama mengelindan waktu
aku sudah menjelma Highlander yang Izrail resistant

Lalu, kelindan waktuku itu Kau beri hikmah apa?
Jangan-jangan Kau meng-kunfayakun-i ku Sisifus
yang Kau kutuk untuk terus menggelindingkan
waktu yang melibas kalbu

25 jan 2004

AJE GILE, JAKARTE!

Gile aje nih, ada busway yang aduhei bikin mepet mikrolet-mikrolet yang biar butut dan lecet-lecet masih tetep lihai meliuk-liuk di Jakarte yang bener-bener licik dan kemaruk. Lho, kok, itu new porkas cengar-cengir mengintai orang yang lapar duit kayak bankir di sudut WC stadion yang bau: bau kencing dan bau ketiak bapak menteri. Weleh, kanal bisa nakal nih, ada kapal yang bakal adu mental sama bajay. Mudah-mudahan aja kayak gandolin di Venesia. Jangan sampe deh, tenggelem dan bikin orang mati sia-sia. Brengsek juga nih three in one, gara-gara sore kena juga, hari ini gw jadi ngga bisa bawa mobil ke Gatsu, mana hujan lagi. Masa iya sih nyewa joki? Ntar, kalau kena kompas pegimane?

Bang Yos, kapan sih Bunderan HI dipindahin ke Depok, kite kan mau juga punya air mancur nan elok. Kite bayar deh, pake uang segepok (Aih, gue maksa, ye?)

26 Jan 2004

Friday, January 23, 2004

AKHIRNYA...!

Akhirnya nih situs kelar juga. Setelah sekian jam--jangan tanya berapa tepatnya--aku nyoba bikin sendiri, ternyata tiap kali hasilnya keluar, tiap kali pula aku diprotes oleh banyak orang. Lalu, dalam kepasrahanku yang amat dalam seorang teman yang begitu baik hati tiba-tiba menawarkan diri untuk ngebikinin situs ini. Rupanya, dia ngga tega juga melihatku gagal berkali-kali.

Teman yang baik hati itu namanya Mr. Ucupz --situsnya ada di link--, teman yang baru kukenal di suatu malam sebelum ramadhan heuheuheu...Dalam pembicaraan kita itu terungkaplah bahwa kita sama-sama kecebur di blogger (Sampai detik ini dia masih terdaftar jadi anak bbv alias Bandung Blog Village). Big Thanks to u, man!

Tak lupa makasih juga atas pendapat Mr. Akbar dan Mr. Toba, yang kebetulan hari ini online di YM --keep talking in my shoutbox, beibeh!--

So, please, enjoy my site!

23 Januari 2004

SELAMAT TIDUR, SAYANG

Selamat tidur, Sayang
Kita enyahkan dulu tumpukan luka
yang makin hari makin keras kepala saja
mengamuk mengobrak-abrik catatan
kesepakatan kita soal sendiri dan rasa sakit

Matikan lampunya, Sayang
Hari ini aku begitu lelah mengasuh air mata
yang cengeng dan menyebalkan
Ia selalu saja merengek-rengek seperti
rengekan gerimis pada cuaca

Putarkan lagu pengantar tidurnya, Sayang
Kita sudah penat bersama hening yang sungguh cerewet
Berjam-jam kita duduk di kedai kopi
mendengarkannya bicara tentang sepi yang asing

Istirahatlah, Sayang
Besok kita bermain-main lagi dengan cinta

22 Januari 2004

SEBAGAIMANA PEZIARAH
: a very special gift for my lovely soulmate’s upcoming wedding, Sari Vicia, on Sunday, Feb, 8th, 2004

Sebagaimana peziarah,
demikianlah kita tertawan kerinduan pada langit yang senantiasa
berubah-ubah warna
kita kemas puluhan cemas dalam kantung mata. Lalu dalam perjalanan yang asing,
menetes mereka di sela-sela jari menggumpal menjelma danau.

Kita terus saja berjalan sebab katamu kau ingin terbang, tapi sayap di punggungmu
hanya sebelah. Aku cuma bisa memandangmu penuh sedih
Tapi, meski hati rawan menggempur,
kita tak henti menasbihi rumput yang melangut embun.

Sebagaimana peziarah,
kita sampirkan ayat-ayat doa di kepala
kita genggam pula sebatang kayu dari pohon yang mati di tepi danau air mata
sebagai penunjuk jalan, sebab telah lama kita tersesat di labirin kerinduan
mencari-cari sebelah sayap yang lenyap.

Kita telusuri setapak dan semak-semak
Sayapmu yang sebelah kerap terperangkap di ujung duri
Kau yang sabar tak memaki, hanya memintaku melepas bebas
Tanganku gemetar sebab takut menambah luka
Lihat, ada goresan panjang di sayapmu! Kataku menahan tangis.
Kau malah tertawa dan mengepak-ngepak
Bukankah ini grafiti yang indah? jawabmu.

Sebagaimana peziarah,
Kita pun sering lelah sebab jalan bagai tak mengarah
Jejak yang kita ikuti mengantar kita ke sungai, ke laut, ke hutan kata-kata
Jejak-jejak itu acap buntu hingga hampir beku segala waktu
Di simpang jalan berbatu berdiri kita meragu tuju
Pelan kukatakan, mari, kita pulang saja ke tepi danau!

Sebagaimana peziarah,
Kita pun menangisi tempat pulang, danau dengan langit senja yang abu-abu
Kita tebar ayat-ayat doa di permukaan gelombang
Kau berjalan ke tepiannya lalu melempar tongkat membelah danau

Dan kita terpaku...
Sebab di sanalah, di dasar danau air mata itu, tergolek sebelah sayap memanggil-manggil namamu penuh rindu
Engkau pun gegas menggapai sayap gelepai itu dan menciuminya penuh haru

Kemudian kau peluk aku, kawan ziarahmu dalam menapaki jalan kerinduan
Dalam pelukan kau berkata lembut, Sayang, aku harus terbang!

Maka, kusaksikan kau layang menembus langit yang berubah jingga.

Begitulah, sebagaimana peziarah,
kusampirkan kembali ayat-ayat doa dan air mata
Dengan sebatang tongkat kayu dari pohon mati, kususuri jalan kerinduanku sendiri.

6 Januari 2004


PERCAKAPAN I*


+ Pagi ini, aku masih termenung memandang tiga pohon cemara di hadapanku. Menari mengikuti alunan angin, bersenandung gemersik daunnya. Pantas saja mereka menyukai natal, cemara itu indah. Daunnya kurus dan cabangnya berlekuk dari dahannya. Dia hidup untuk memberi keindahan, pemandangan dan kekaguman. Tapi, bahagiakah dia?

Pagi ini, aku masih termenung menyaksikan tiga cemara di hadapanku dia balik menatap ku dan berkata "Honey, aku bahagia!"


~ Cemara, ah cemara...kubayangkan engkau di tepi danau di pagi hari. Hujan habis turun malam tadi meninggalkan bulir-bulir bening yg bulat pada tiap helai daunmu yang panjang.

Cemara, ah cemara...pohon yang tabah di gempur dingin. Meski sendiri tak pernah sepi, tetap menjulang, tetap menghijau.

*Percakapan adalah bincang-bincangku bersama sepupuku tercinta, Ummi Kultsum.
+ adalah cakapnya
~ adalah cakapku

Tuesday, January 20, 2004

Jangan katakan sepi, aku tak mampu mengisi!

Monday, January 19, 2004

Aku pandang engkau hari ini. Wajahmu sedikit pucat. Kenapa? Apa sedemikian kacaunya keadaan rumah akhir-akhir ini? Aku mengukur tiap inci matamu. Banyak sisa sedih dan tanda tanya. Tidak bisa kau buang saja kah? Bertahun-tahun bersamaku, kau masih saja susah untuk memikirkan dirimu sendiri. Masih saja tidak egois. Padahal sudah susah payah aku mengajarimu trik-trik menjadi egois. Kau memang murid yang payah!

Saturday, January 17, 2004

Whoa! Dimarahin dokter gara-gara kebanyakan kopi. Disuruh berhenti sekarang juga. Blah, kayak apa hidupku tanpa kopi, sakit kepala deh.

Inilah 'omelan' dokter malam itu--aku cuma cengar-cengir basi--

"kamu kurang tidur, ya?"
"kok, darah kamu rendah?"
"kecapekan, ya?"
"jangan makan pedes sama asem!"
"kenapa kamu ngga bilang kalau alergi penisilin? bisa dirawat nanti!"
"apa itu kopi? Sudah, berhenti sekarang. lagian ngapain kamu minum kopi?"

Walhasil, beberapa hari ini aku hanya minum teh.
blah, blah, blah!

LAUT
:samepairofshoes

Laut sudah memanggilmu, kah?

seperti apakah warna pantai dari kapalmu
dan rasa angin yang menampar layar
apakah sama asingnya
dengan luka yang kita jahit pada kata-kata?

17 Jan 2004

JANGAN HARI INI

Jangan mencintaiku hari ini sebab tiap jarak di tubuhku adalah luka. Aku baru paham saat kulihat kesakitan di secangkir kopi malam, lalu kukutuk diriku yang lalai. Pernah kupatahkan tiap sembilu yang kukira menakik luka, kusingkirkan es sebab kusangka menebar gigil. Tapi, akulah luka dan beku itu.

Jangan mencintaiku hari ini. Kau akan terluka.

17 jan 2004

Monday, January 12, 2004

TOBA versus NAZLA

Toba:

jangan berlari lagi
sudahlah
luka itu akan kering

langit masih luas
senja telah mendekati kita
tak ada lagi tempat sembunyi
luka terus menguntit
dan dunia terus menghunjamkan
tuntutannya pada kita

kau pasti lelah
kemarilah,
biar kuusap keningmu yang penuh peluh
biar kubalut luka menahun di kakimu

aku akan membelaimu penuh sayang
seperti hujan membelai kita

jangan tersenyum lagi
itu bohong dan palsu
hanya menyembunyikan ketakutanmu
untuk sesaat saja

sampai kapan kau terus berlari?
kemarilah
pulanglah
ke hatimu

Nazla:

tapi tuan,
tak tahukah engkau
aku berlari dari belai rasa sayang
bersembunyi dari air yang melayang

bagaimana mungkin aku kembali
pada belaian dan pada hujan kita

lukaku menyayat saat kau sentuh
lukaku memedih saat jarum-jarum dari langit jatuh

aku memang takut
pada kulitmu,
pada kristal bening hujan itu

11.01.04

Sunday, January 04, 2004

Seharusnya aku belajar sesegera mungkin setelah mampu mengeja, bahwa rangkaian huruf C--I--N--T--A itu dibaca air mata!

04.01.04


Hari ini aku ingin membunuh cinta!


04.01.04



Orang tidak mau membaca kenyataan yang pahit maka aku menulis kenyataan yang diinginkan. Seperti Rockwell yang melukis kebahagiaan untuk menghilang dari penderitaan

---kutipan bebas dari Everwood, episode 4 Jan '04---





04.01.04

Pagi ini, aku menangisi sebuah tragedi lagi. Tragedi yang membuatku gigil. Tragedi yang kusebut anak haram dari cinta. Kuberi nama ia: Nafsu!

Aku menangis sebab kau tak sanggup menangis lagi, teman. Aku hanya menangkap sayup suaramu yang putus asa. Lalu aku mengutuk diriku tak bisa memeluk tubuh kurusmu dan membiarkan air tumpah ke pundakku. Aku mencaci diriku yang tak cepat peka membaca tanda kata-kata yang gemetar dari bibirmu. Aku mengumpat diriku sebab menghilang darimu bertahun yang lalu.

Kau bertanya padaku, kenapa Tuhan menyibak tirai padaku lalu membelitku hingga hampir tak bernafas? Kenapa Ia menghukumku padahal aku mencintaiNya? Kenapa Ia menunjukkan jalan dengan cara menyesatkanku?

Aku pasi mendengar gugatmu. Lalu aku menangis, menangis, menangis, menangis, menangis... Entah sampai kapan aku harus berhenti.

04.01.04





Seseorang berkata begini padaku:

"Lu, cinta kenapa abstrak?
Lu, begitu sakit pada setiap relung hati
Lu, kita tak pernah menyangka ini begitu tiba-tiba
Lu, cinta bukan dosa, kan?
Lu, tapi mengapa kita terhukum ketika kita lalai untuk menjaganya
Lu, Cinta juga bukan dewa
Tapi, Lu. Kuasanya mencengkram. Laksana dewa. Memberi sayap dan kemudian mematahkannya.
Lu, kenapa cinta itu dekat sekali dengan air mata? Datang dan pergi pada saat terluka bahkan bahagia.
Lu, ketika Cinta pergi, ruangan ini begitu kosong, kering dan gelap. Dan aku masih di sana terlolong menatap sesuatu yang hilang tak bersisa.
Lu, bukakan pintunya, kumohon..."


Lalu aku berkata dalam hati, "honey, I myself can't open that damn door too!"

04.01.04