Dia Telah Kulahirkan (Sendirian)
Kembali pecah gelembung hampa udara di antara kita. Dia yang seharusnya milik kita telah kulahirkan sendirian. Ia lahir tanpa menangis, cuma aku menahan sakit.
Apa kau sakit juga melihatnya lahir? Sesakit perpisahan kita yang menghasilkan gelembung hampa udara? Apa kau membenci dia yang kulahirkan sendirian? Dia yang benihnya kau tanam di otakku. Dia yang pernah susah payah kita pertahankan berdua. Dia yang akhirnya kupaksa putus dari plasenta otakmu.
Seharusnya ada pita dan balon warna-warni di hari lahirnya. Lalu tawamu berhamburan di segala ruang. Lalu mata kita bercengkeraman di atas air yang membayang. Lalu kita menuliskan takdir hidupnya di selembar kertas buram (katamu, sudah terlalu banyak pohon ditebang, kita pakai saja kertas daur ulang)
Tapi dia kulahirkan sendirian. Aku begitu sedih dan kesepian...
Posted by nazla at 1:44 PM 0 comments
Kepada Siapa
Kepada siapa diri yang lelah pulang? Hanya cemas dan getir yang serta merta ada, menambah celah sakit. Lalu lobang-lobang kecil itu terisi petaka yang takkunjung usai. Aku tahu ada malaikat di tiap incinya, tapi ada sayap yang lebih tebal dari kerak di otakku. Mewarnai celah itu dengan hitam, yang jika kau berusaha lihat, seperti pusaran yang bisa menghisapmu.
Kepada siapa diri yang lelah pulang? Hanya sepi yang cekam merentang tangan. Dan ketika mereka bergenggaman, kosong serentak datang.
Posted by nazla at 9:43 AM 0 comments
Tersesat di Kampus Sendiri (how stupid i am)
Kemaren gw ngajak 3 orang jalan2 ke UI. Ke tempat yang selalu gw dan sari pengenin, Hollywood-nya UI, alias tempat yang ada tulisan Universitas Indonesia segede alaihim.
Rencananya sih, gw, lio, toba, dan taufik temennya toba, mau hunting senja buat cover buku. Setelah gw timbang2 tempat yang sesuai dengan gambaran, ya, di hollywood itu. Cuma, gw ngga tau jalannya. Walhasil setelah nanya2 ke satpam dan tukang mie ayam, jadilah kami berempat setil pede menuju tanah impian.
Ternyata jauuuuuhhhh..banget. Mana serem, rada gelap (udah mau maghrib plus mendung), dan banyak petunjuk menyesatkan seperti "nanti ketemu rumah gedong ambil aja jalan ke kiri", "ohhh... jalan aja lurus nanti juga ketemu", "ohh..ikutin aja jalan ini, terus ketemu bendungan nanti nyebrang". Buset, jalan menuju jembatan bendungan aja jauh benerrr...
Nyaris aja kami pulang lagi, dan sempet kepikiran pulang naek ojek (tapi kaga ada ojek di tengah hutan). Cuma gw penasaran juga. Masa udah jalan capek2, udah deket lagi, trus pulang. Bisa2 gw ngidam kue klepon 7 hari 7 malem.
Dengan dukungan dari toba, akhirnya kami lanjutkan perjalanan menuju hollywood tersebut. O, la, la! Ternyata ada jalan pintas, dengan jarak sekitar 250 meter saja dari tukang mie ayam tadi! Sementara tadi kita ambil jalan lurus sejauh 1560 km plus 2,5 meter! (banyaknya tanda seru menunjukkan betapa bodohnya kami itu...)
Mau tau apa hasil dari perjuangan berat kami itu? HUJAN! Yup, gejala alam yang ditimbulkan akibat titik-titik air yang berkumpul membentuk awan lalu tumpah ke bumi.
Toba lantas berpilosopi : " setelah berjuang berat menuju suatu tempat yang sangat kita dambakan, ternyata kita hanya bisa menikmatinya satu detik saja."
Sementara itu,
Lio : "Pulang aja, yuk! Hujan." (iya, lah..masa salju)
Taufik : "Untung bawa payung."
gw : "Payungnya merah jambu pula."
Tapi, jalan yang menyesatkan itu indah banget kok. Honestly, i was very excited. Danaunya tenang, romantis, dan mistis (kata taufik cocok buat uji nyali). Dan di atas itu semua, gw seneng banget bisa jalan sama makhluk tiga itu. Gw udah berniat menyesatkan mereka lagi lain kali hekhekhekhek..*evil grin*
Posted by nazla at 8:34 PM 0 comments