ANGIN BULAN SENJA
Sebentang langit
bintang
Sebatas gelap
kenangan
When i got my PMS (pre-menstruation syndrom) perhaps it was a disaster for people around me. But, at that time, i felt so much blessed because all the feelings i had; anger, pain, hatred, or feeling so sad, helped me to write. Ga percaya? Ya udah, gpp.
Keluar dari Gramedia, hujan likat turun. Ada angin juga. Trus gw jadi mikir, ni angin kayanya centil amat ya, malu2 kucing. Ngga mau keliatan, tapi pengen orang tau kalau dia ada. Kalau neduh di bawah pohon trus misalnya kita lupa gitu sama dia, eh, dia bikin keributan di daun-daun. Bikin suara yang gemerisik. Atau kaya pas hujan tadi. Keluar dari tempat parkir, yang gw pikir cuma: wah, hujan! Indah. Eh, lha trus barisan panjang air itu mendadak meliuk-liuk, berputar-putar. Tuh kan, dia pengen diliat lagi.
Ada ruangan. Sekian kali sekian meter. Ada orang satu. Rambut sebahu. Ada kantung di bawah matanya. Ada buku dua. Yang satu judulnya learn to love again, yang lain i forget when was the last time i feel happy. Dia tidak bergerak. Duduk tegak di bawah jendela. Sinar bulan menyorot bahunya yang gemetar. Sebentar lagi dia akan jadi serigala.
Sudah kuceritakan soal bulan mata sapi belum? Iya, ada di atas kepalaku. Awan berbuih-buih putih seperti limbah danau di samping fakultas ekonomi atau seperti putih telur dalam adonan kue. Bulannya sempurna, ada di samping kanan. Sinarnya kuning, menyebar ke buih-buih limbah itu (atau ke adonan kue? Kue apa? Sponge cake i think. Or puding maybe? Hei, i don’t cook, remember?).
Ada pesan dari perempuan yang mencari-cari lelaki pembawa senja. Sudah dia hentikan pencariannya, lelaki itu dua hari yang lalu menikah. Kasihan amat, ya? Padahal lelaki yang membawa senja itu tidak tunggal. Punya banyak kembaran meski bukan hasil kloning. Cuma turunan dari hati perempuan itu sendiri. Semoga aja dia cukup cerdas untuk segera menghentikan pengembaraannya, pulang ke rumah, dan menikmati secangkir sereal cokelat.
Di telepon seorang perempuan, meski dia tidak menangis, suaranya seperti menumpahkan air mata. Dia marah pada dirinya, aku marah pada lelakinya. Bajingan. Ada yang tahu bagaimana mendapatkan sianida tanpa resep dokter?
Membaca hujan bulan juni-nya sapardi, dalam kamar gelap, pakai senter kecil, backsound: Enya. Seperti duduk di atas daun teratai di sungai Rivendell. Tahu ngga kalau buah teratai itu getir rasanya? Ya, mirip2 lah sama rasa cinta yang ngga kesampaian.
Ada dua resensi film. Liat aja di sini.



0 comments:
Post a Comment