
Mawar dari si aa. Dibeliin after our big fight. Well, they're never come into my hands, actually, makanya layu gitu. But it's ok. Setelah satu setengah tahun, he made his promise to bought me roses. Well done ^.^
Hampir tiap bangun tidur aku menyeduh teh hijau. Coba aja dengar, hujan masih setia pada daun-daun pagi ini. Malam tadi dia sudah berjatuhan. Semalam aku tidak menjenguknya, cuma menyimak beradunya dia dengan seng dan batang pohon. Kali ini aku harus menyapanya.
Keluar dari kamar, ada ayahku bertudung caping. Aku bengong.
"Lho, PKI dateng lagi, ya?"
Ah, hujan selalu menggetarkan hati.
Masuk kamar lagi. Menyeruput teh hijau pahit di cangkir cokelat susu, dengan bunga-bunga oranye berjatuhan. Segar.
Buku biru Chekov ditangkap mataku lagi. Ada foto oval penulis itu. Dia punya mata dan senyum yang jenaka. Sepertinya aku pernah mengenal seorang lelaki dengan wajah jenaka seperti itu. Dimana, ya?
Ada yang baik hati mereview bukuku, makasih ya mas imponk :)



0 comments:
Post a Comment