AME WA MOU
Love is all a matter of timing
It is not good meeting the right person,
too soon or too late
(Tony Leung in 2046)
Tuh, kan. Kau suka begitu sih. Membiarkan dirimu lebur dalam ketiadaan. Persis dulu. Cuma sekarang lebih parah. Menganggap dirimu pecahan khayalan yang bisa berubah-ubah bentuk. Kau susun jadi kolase-kolase berwarna tapi berantakan. Kadang kau adalah malaikat bersayap jalan-jalan pake jins biru dan tank top oranye, nonton Persib lawan Persija (sebetulnya kau mendukung siapa, sih?). Di lembar prakarya selanjutnya, kau mengolase menjadi anak kecil berponi dan bertopi, seperti maruko-chan. Kau berjalan-jalan ke taman yang ada teratai kuningnya. Kapan kau menghadapi realita bahwa malaikat itu tidak bersayap dan kau tidak punya poni yang jatuh di keningmu?
My guilty pleasure gw akhir-akhir ini adalah Britney Spears. Setengah mati gw benci sama Britney, sama gaya dandanannya dan kenyataan bahwa dia adalah contoh sukses kapitalisme. Tapi, beneran deh, musiknya enak-enak banget. Cocok untuk mengiringi kegiatan nyapu pagi-pagi.
Kemaren pas ke toko kaset, gw berjuang susah payah menjauh dari kaset greatest hits-nya Britney Spears. Menghadapi situasi gawat seperti ini, satu-satunya cara gw melawannya adalah dengan memikirkan Led Zeppelin, Jewel, atau Evie tamala.
Jatuh cinta itu menyenangkan. Aku menggambar hujan di pondok reot di tepi pantai. Bocor di mana-mana. Hujan jatuh di wajahku. Hujan yang bercampur debu. Kau lalu mengusap kedua mataku dengan ibu jarimu. Meniup mataku pelan, mengeringkan leleran air keruh itu.
Seandainya, ini cuma seandainya, Pollycarpus benar yang membunuh Munir, kok dia bodoh betul. Membunuh aktivis HAM yang dikenal dunia internasional tanpa alibi. Apa dia ga pernah membaca Agatha Christie atau liat serial Alias, ya? Tidak smooth sama sekali. Anyway, siapa pun yang membunuh Munir harus dihukum seberat-beratnya, semoga la'natullah alaihim (or kum?). Tsah, gw kaya pengikut fanatik suatu kaum. Kaum naon, siah? (siah or Syiah?).
Ngomong-ngomong soal fanatisme, gw sekarang ikut esmosi soal Ganyang Malaysia. Parah bener tetangga kita ini, main klaim sana sini aja. Yang bikin heran, bukan sama negara kita aja dia bermasalah, tapi sama negara-negara ASEAN lainnya juga. Ck, ck, ck. Rasanya pengen bikin bom nanas kaya temennya Sanosuke Sagara, trus gw lempar dari Ambalat ke Kuala Lumpur (btw, berapa kilo Ambalat-KL?).
Beberapa hari yang lalu, Gus Dur sakit. Pagi-pagi dia nanyain bokap gw. Sebagai pengikut setia atau mungkin takut kualat, tergopoh-gopohlah bokap gw dateng ke negeri Ciganjur. Sampe sono keluarlah sabda,
"Kamu ikut pemilihan walikota Depok, ya!"
Dihhhh.....najessshhh..bokap gw ikut jadi kandidat walikota?! KAGA DAH! Anak minta jatah, ntar babeh gw yang masuk neraka.
Tanggal 7 ultah Haliya ke-25. Tanggal 11 ultah pernikahan ke-4 Cut dan Reed. Omodote Gozaimasu, ya.
Ingin sekali lebur dalam dirimu. Ketidakberadaan makin membosankanku. Bermain-main dengan kata-kata liar bikin capek. Tidak bisa dibedakan lagi yang mana citra dan yang real. Tumpukan kata yang berderet-deret setebal CPU semakin asing. Membingungkan jalanku menujumu.
Eh, waktu gw masih kerja di majalah itu, hari kedua kan ceritanya gw diminta jadi model ya. Bukaaan...bukan jadi model cover kaya artis-artis atau model fashion gitu, tapi model pasangan muda lagi megang kemoceng sama kaen lap. Ada percakapan antara gw dan orang yang kantornya dipake buat pemotretan,
"Orang mana?"
"Betawi."
"O, yaaa? Betawi-nya di mana? Saya Betawi juga."
"Depok."
"hahahahaha...Depok mah bukan Betawi!"
"..."
Gw jadi mengalami disorientasi kesukuan nih. Gw bilang orang betawi, diprotes. Mau ngaku orang sunda diomelin, kaga bisa ngomong sunda. Gubernur gw kantornya di Bandung. Kepolisian gw di bawah Polda Metro Jaya. Mau ngaku orang arab biar dapet habib atau syekh kaga mungkin juga, darah yang ngalir di gw kan cina. Waaa...gw jadi huli hutu* nih.
*menurut Ovi, guru mandarin paksaan gw, huli hutu adalah ungkapan cina yang artinya pusing tujuh keliling.
Tuesday, March 15, 2005
Posted by nazla at 10:04 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment